BASICS Gelar Lokakarya Nasional Pencapaian SPM melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender untuk Percepatan MDGs

Pemerintah Indonesia menyadari betul, peningkatan kualitas hidup manusia tidak lepas dari pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar pendidikan, kesehatan, dan upaya mengatasi kesenjangan terutama kesenjangan gender. Karena itu, Pemerintah pun menerbitkan Inpres Nomor 3 tahun 2010 tentang Pembangunan yang Berkeadilan. Inpres tersebut menekankan komitmen Indonesia untuk pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) khususnya pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan.
Untuk mempercepat pencapaian MDGs dan sekaligus untuk peningkatan kualitas pelayanan dasar pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal. Persoalannya dari sejumlah indikator SPM yang telah ditetapkan dalam tataran praktis belum didukung oleh keberpihakan kebijakan, program dan penganggaran. Selain itu kebiasaan melanjutkan tradisi model perencanaan dan penganggaran netral tanpa didahului oleh analisa gender juga telah berkontribusi terhadap belum terlalu menggembirakannya hasil pencapaian SPM dan MDGs. Padahal analisa gender dalam perencanaan sangat penting dilakukan untuk membantu mengidentifikasikan siapa yang membutuhkan apa, dimana dan bagaimana program/kegiatan mesti dilakukan agar kebutuhan dan akar masalahnya direspon dengan tepat.

Hasil evaluasi pelaksanaan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang dilakukan oleh Bappenas pada tahun 2011 lalu, menemukan bahwa secara kuantitas semua K/L yang ditunjuk berhasil memenuhi target dengan mengumpulkan minimal satu GBS, dan bahkan beberapa K/L telah melampaui target tersebut. Namun dari sisi kualitas belum terpenuhi sebab kegiatan yang diajukan dengan Gender Budget S sebagian besar belum merupakan bagian dari program prioritas nasional, capaian MDGs, ataupun prioritas K/L. Bentuk kegiatan masih berkisar sosialisasi dan pelatihan, belum menyentuh kegiatan-kegiatan utama K/L. Dengan kata lain, kemungkinan besar pelaksanaan ujicoba PPRG 2009 dan 2010 belum memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan kesetaraan gender di bidang infrastruktur, pertanian, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan, keuangan negara, dan perencanaan secara menyeluruh. Sementara itu, ujicoba pelaksanaan PPRG pada tingkat provinsi merupakan inisiatif sendiri dari masing-masing Pemerintah Provinsi Banten, Di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pelaksanaan ujicoba tersebut telah dilakukan dengan sukses dan melibatkan semua SKPD, walaupun menggunakan dasar hukum daerah yang berbeda-beda. Semua SKPD di 4 provinsi tersebut berhasil memenuhi target dengan mengumpulkan minimal satu GBS, dan bahkan beberapa SKPD telah melampaui target tersebut.

Untuk dapat memberikan kontribusi konkret untuk percepatan pencapaian SPM dan MDGs melalui PPRG (Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender) sekaligus memperoleh masukan bagi pelaksanaan Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui PPRG, maka BASICS menggelar lokakarya nasional (Loknas) bekerjasama The Asia Foundation, UN Women bersama Kementrian Dalam Negeri, serta Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak . Lokakarya Nasional bertema "Pencapaian SPM melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender untuk Percepatan MDGs" yang  dilaksanakan di Jakarta, 26-28 September 2012 ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya dari Dirjend Otda Kemdagri, Bappenas, serta Bappeda dari beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Tujuan umum dari Loknas ini adalah untuk membangun dialog multi pihak untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran responsif gender di K/L dan SPKD dalam rangka percepatan pemenuhan capaian indikator SPM dan pencapaian MDGs. Tujuan lainnya yaitu untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan pembelajaran dari pelaksanaan PPRG di pusat dan daerah yang telah melakukan uji coba PPRG. Selain itu, untuk membahas mekanisme PPRG untuk diterapkan di daerah dalam rangka percepatan pencapaian SPM dan MDGs sehingga dapat menjadi masukan bagi Permendagri tentang penyusunan RKPD 2014, membahas tentang mekanisme PPRG di daerah untuk pencapaian SPM dan MDGs dalam rangka memberikan masukan kepada Permendagri tentang Penyusunan APBD 2014, dan membahas rencana aksi konkret yang harus dilakukan untuk percepatan pelaksanaan PPRG di daerah.

Lokakarya ini menghadirkan sekitar 120 orang peserta dari berbagai unsur, seperti Kementerian dan Lembaga, Lembaga Donor, Perwakilan dari berbagai Provinsi, organisasi masyarakat sipil, dan peserta dari daerah kabupaten/kota. ***





0 komentar:

Posting Komentar

 
  • BASICS PROJECT NORTH SULAWESI © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes